Bootcamp di Yonif 330 Nagreg: Tantangan dan Keceriaan yang Tak Terlupakan
Tulisan
ini melanjutkan tulisan sebelumnya tentang pengalaman saya mengikuti kegiatan
IGI Jawa Barat yang berlangsung selama dua hari yaitu 18 s.d.19 Januari 2025 di
Yonif 330 Nagreg. Peserta diperbolehkan masuk ke barak prajurit pada pukul
17.00 WIB. Barak 1 terdiri dari dua sisi yaitu sisi kiri dan kanan serta di
bagian tengahnya ada ruang tamu. Hal pertama yang saya amati adalah kebersihan
barak yang kami tempati. Saya merasa kagum dengan lantai yang bersih, tempat
tidur prajurit dan pemasangan seprei yang rapi serta sepatu berjejer rapi di rak.
Selanjutnya saya berkeliling melihat fasilitas di kamar mandi. Kamar mandi
terdiri dari 2 tempat yaitu di ujung
sisi kiri dan sisi kanan. Masing-masing kamar mandi berisi lima ruangan MCK dan
satu ruangan yang berisi bak panjang yang penuh air. Saya senyum-senyum
memikirkan para prajurit ini mandi secara bersama-sama karena bak mandinya panjang.
Kalau orangnya pemalu, kira-kira bagaiamana ya kalau mandi bersama-sama?
Sepertinya tidak ada prajurit TNI yang pemalu. Hahahaha.
Pagi
di hari kedua, saya terbangun saat jam di HP menunjukkan pukul 3 dan karena
masih mengantuk akhirnya saya pun tertidur kembali. Saya terbangun karena dikejutkan oleh suara tembakan. Ada apa ini? Bergegas saya
membangunkan putri saya. Ternyata sudah pukul 5.00 WIB. Sesuai rundown acara,
pukul 5 saatnya untuk senam pagi. Butuh waktu 3 menit untuk segera membersihkan
wajah dan menyikat gigi dengan sat set. Mentari pagi sudah mengintip dari balik
pepohonan saat saya dan putri saya ke luar dari barak menuju lapangan. Kami terlambat
5 menit tapi dengan semangat membara menyambut bootcamp yang akan diawali dengan
senam pagi. Selesai senam pagi, kami pun menikmati sarapan dengan tertib dan
teratur. Setelah sarapan, kami
diperbolehkan meninggalkan lapangan menuju barak untuk mandi dan bersiap
mengikuti kegiatan team building yaitu menjalani serangkaian kegiatan
yang akan menguji fisik dan mental.
Pukul
8.00 WIB kami berkumpul di hutan pinus untuk mengikuti kegiatan team buiding.
Semua peserta dibagi menjadi 3 kelompok yang terdiri dari dua kelompok wanita
dan satu kelompok pria. Masing-masing kelompok yang beranggotakan sekitar 28
orang dibagi lagi menjadi tim yang beranggotakan 5-6 orang. Ada tiga kegiatan
yang akan dilakukan yaitu lempika (lempar pisau dan kapak), pembuatan bivak dan
tandu. Kegiatan ini dipandu oleh lima prajurit TNI yang dikoordinir oleh Sersan
Dimas. Kegiatan pertama yang menyambut kelompok kami adalah membuat bivak. Kami
diajak untuk membangun tempat berteduh sementara di tengah hutan. Bivak dapat
dibuat dengan menggunakan bahan-bahan alam seperti ranting, daun, dan tali.
Intinya mendirikan bivak harus menciptakan struktur yang kuat dan nyaman. Bagi
anggota TNI, mendirikan bivak adalah teknik penting yang harus dikuasai karena
bivak merupakan tempat berlindung sementara di alam bebas dari gangguan cuaca,
binatang buas dan angin.
Dokpri: foto bersama peserta
Kegiatan
bootcamp ini sangat singkat maka untuk mendirikan bivak, alat yang tersedia
yaitu 2 ponco, 2 tongkat penyangga, tali rafia, besi penyangga dan pisau.
Instruktur mengatakan bahwa perajurit TNI diajarkan menemukan cara untuk
memanfaatkan segala sumber daya yang ada di sekitar apalagi saat berada di
medan perang. Kami belajar bagaimana mengikat simpul yang kuat, membangun
rangka yang kokoh, dan membuat atap yang kedap air. Dalam pembuatan bivak,
instruktur menjelaskan pentingnya beradaptasi dengan lingkungan sekitar, memperhatikan
arah angin, mencari tempat yang aman, dan memastikan bahwa bivak harus cukup
kuat untuk melindungi tubuh.
Ket. foto. Instruktur
mempraktikkan pembuatan tandu dan simulasi evakuasi korban
Kegiatan
kedua adalah membuat tandu. Tandu adalah alat bantu untuk membawa orang yang
sakit, pingsan atau terluka. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok, kemudian
diberikan tugas untuk membuat tandu dari bahan-bahan yang telah disediakan. Kami
harus memikirkan desain tandu yang baik, sehingga orang yang diangkut merasa
nyaman dan aman. Selain itu, tandu juga harus kuat dan mudah dibawa. Proses
pembuatan tandu ini menguji kreativitas dan keterampilan dalam memakai bahan-bahan
yang ada. Setelah tandu selesai dibuat, kami melakukan simulasi evakuasi. Tiap
kelompok terdiri dari 5 orang yaitu satu orang berperan sebagai korban, satu
orang memberikan pertolongan pertama dan tiga orang lainnya membuat tandu
dengan cepat dan bertugas membawa tandu. Saya kebagian tugas membuat tandu dan
membawa tandu. Kegiatan ini mengajarkan
kami tentang pentingnya bekerja sama dalam situasi darurat dan bagaimana cara
memberikan pertolongan pertama pada orang yang terluka. Saat praktek pembuatan
tandu, ada pertanyaan mengelitik dari peserta. Saya tahu tujuan pertanyaan ini
hanya untuk seru-seruan. Ada yang bertanya apakah membuat tandu bisa
menggunakan baju, selimut atau sarung? Para instruktur dengan sabar menjelaskan
pembuatan tandu dari jaket berkancing, sarung maupun selimut.
Kegiatan
terakhir yang tak kalah seru adalah lempika (lempar pisau dan kapak). Lempika
adalah keterampilan dasar yang wajib dimiliki oleh anggota TNI. Kami dibagi
menjadi beberapa kelompok, masing-masing mempraktikkan cara melempar pisau dan
kapak ke batang pohon yang berdiri tegak. Deg-degan rasanya saat melempar
pisau. Saya mencoba dua kali dan dua-duanya gagal. Tetapi saat saya melempar
kapak, kapak pun menancap dengan sempurna di batang pohon. Setiap lemparan
membutuhkan perhitungan yang tepat dan kekuatan yang terukur. Awalnya, saya
melihat lemparan teman-teman masih sering meleset. Namun, seiring berjalannya
waktu dengan banyak latihan melempar, kami mulai menemukan ritme yang pas. Peserta
bersorak senang saat pisau dan kapak menancap dengan sempurna. Lempika
mengajarkan kami betapa pentingnya fokus, keseriusan dan semangat juang dalam
mencapai tujuan.
Ket. Foto: Instruktur memperagakan teknik lempika
Pukul
11.30 WIB, kegiatan team building telah selesai. Kami pun kembali ke barak
untuk bersiap mengikuti upacara penutupan dan pulang ke daerah masing-masing. Bootcamp di Yonif 330 Nagreg adalah pengalaman
yang tak akan pernah saya lupakan. Selain melatih fisik dan mental, kegiatan
ini juga mengajarkan banyak hal tentang pentingnya kerja sama tim,
kepemimpinan, dan kepedulian terhadap sesama. Saya dan putri saya pulang dengan
membawa banyak pelajaran berharga.
Di pengujung tulisan ini, saya ingin
mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada IGI Jawa Barat terkhusus
kepada panitia dan Yonif 330 Tri Dharma yang telah memfasilitasi kegiatan ini.
Dalam komunitas IGI saya banyak belajar untuk menjadi guru yang pantang
mengajar jika malas belajar. Saya juga diajarkan untuk mau berbagi praktik baik
sesuai dengan slogan IGI: Sharing and Growing Together.
Posting Komentar untuk "Bootcamp di Yonif 330 Nagreg: Tantangan dan Keceriaan yang Tak Terlupakan"